Cara Mengubah Benci Menjadi Simpati Dengan “Pelet yg Sehat”

Ijinkan saya bercerita tentang bagaimana mengubah benci menjadi simpati. Cerita berikut bisa membuat Anda yakin, bahwa tidak ada usaha yang gagal jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

“Pada tahun 2001 ada seorang anak bernama Anam yang berperan sebagai penyembuh pelet pada teman sekelasnya, dan pada tahun 2006 secara tidak sengaja Anam justru menjadi pelaku pelet. Namun yang dilakuan Anam kali ini berniat untuk melakukan “kejahatan supranatural” seperti yang dilakukan oleh mantan pacar nya.

Saat kuliah di yogya , Anam merasakan ada yang tidak beres pada dirinya. Ketika baru sembuh sakit selama tiga hari, ia merasakan teman-teman kampus menjauhinya.

Anam bercerita bahwa ketika ia ikut bergabung saat teman-temannya sedang berkumpul, tiba-tiba temannya menyingkir. Bahkan, teman yang biasa akrab dengannya dan setiap pulang kuliah selalu bareng pun menghubungi teman lain untuk menjemputnya hanya untuk menghindari dari Anam.

Ketika liburan, Anam pulang kampung. Lalu, ia ingat pernah diberi ijazah oleh seorang imam surau di desanya, yaitu amalan untuk mengubah benci menjadi simpati.

Anam tertarik untuk mencoba ilmu tersebut dengan niat agar kondisi pertemanan itu menjadi normal kembali.”

Bagaimana ilmu tersebut dilakukan ?

“Metode yang diajarkan Anam itu melalui Sholat Hajat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah Surah Al-fatihah, ia membaca surah Al-ikhlas 100 kali.

Pada rakaat kedua setelah Surah Al-Fatihah, ia membaca bagian akhir dari Surah At-Taubah “Hasbiyallahu laa ilaaha illa huu, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil-aziim” 30 kali.

Setelah salama ia membaca doa khusus yang ditujukan pada orang-orang yang dikehendaki.

Saat berdoa setelah salat hajat, ia meniatkan untuk memilih satu nama sebagai perwakilan teman sekelas (81 orang) yang membencinya. Asumsinya, jika orang yang keliatan paling benci saja bisa normal lagi, apalagi yang lainnya.

Perempuan ini sekelas dengannya dan sama sekali tidak akrab, bahkan saling menyapa saja tidak pernah. Tapi ketika semua orang membencinya, raut kebencian maksimal intu terpancar justru dari perempuan ini.

Walau Anam baru menjalankan salat hajat tiga hari berturut-turut, dari yang semestinya tujuh hari, ia merasakan ada keajaiban.

Saat ia kembali ke Yogya, waktu di bus karena mengantuk, ia men-silent ponselnya. Sesampai di Yogya, ia cukup terkejut karena ada 28 panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama di ponselnya. Anam tidak tahu pasti siapa yang menghubunginya saat itu.

Namun, ketika sudah mulai masuk kuliah, suasana pun benar-benar berubah. Teman yang semula menjauhinya kini berubah baik, termasuk perempuan yang dulu paling membencinya.

Ia juga sangat baik terhadap Anam,  bahkan perasaannya menjadi lain. Perempuan itu sering menanyakan pada teman-teman kuliahnya, bahkan mulai tampak benih-benih yang mengarah pada perasaan cinta.”

Metode seperti yang dilakukan Anam ini termasuk tipe “pelet” yang masih sehat. Ia hanya mengubah benci menjadi simpati. Suatu ilmu dikategorikan sehat jika memenuhi prinsip: tidak merugikan pihak lain, memengaruhi pikiran menjadi tidak normal, dan efeknya menyenangkan kedua belah pihak.